Di bawah ini merupakan isi dari surat yang ditujukan kepada seorang ikhwan namun sumber menyatakan bahwa surat tersebut tidak sempat diterima oleh pemiliknya karena berbagai pertimbangan satu dan lainnya. dengan kata lain adalah bahwa surat ini tidak satu katapun dibaca oleh yang dituju dengan kesengajaan sumber (sang penulis surat). Saya secara pribadi sudah memperoleh izin dari pembuat surat ini untuk menerbitkannya di blog saya. silakan dinikmati keindahan bahasa dan maknanya.
Akhi….
Sedih bila ku ingat pertengkaran-pertengkaran itu, membuat jarak antara kita. Rangkaian masa yang telah terlewat, buat batinku menangis. Mungkin karena egoku, mungkin karena egomu, maaf menjadi begini.
Masih ingat, ketika kakakmu melamarkanku untukmu, dia berkata bahwa niatan baik keluargamu terhadap keluargaku dan hubungan yang mulai terjalin itu adalah bagai persemaian benih, dan ketika masa pernikahan tiba, adalah sebagai tanda benih yang ditanam tadi tumbuh dewasa berbunga dan berbuah. Dan sekarang akhirnya benih yang kita tanam bersama tidak sempat berbunga apalagi berbuah.
Kau adalah laki-laki yang baik dan walikupun mengizinkanku untuk membiarkanmu masuk di hari-hari penantian jelang ku siap untuk bersanding denganmu, kesanggupanmu menunggu, aku anggap sebagai syarat demi restu keluarga. Sebagai muslimah, saat itu sejatinya ku tak punya alasan untuk menolakmu, karena kau baik.
Yang paling menyukaimu adalah almarhumah Ibundaku, semoga Allah swt meridhoinya. Beliau kerap memujimu dan membesarkan hatiku, terasa hangat, begitu hangat. Kau penuh perhatian dan penyayang, tiada pernah keluargaku peroleh penghargaan sebesar itu sebagai keluarga kedua bagimu.
Ku ingat pula ketika ku lewati masa-masa kritis, ayahandaku terjatuh, ibundaku jatuh sakit, dan jika tidak salah, momen itu menjelang ujian akhir semester sedang kau tahu prestasiku dipertaruhkan disana, adik-adikkupun masih sangat kecil untuk mengerti posisiku, saat itulah kesungguhanmu teruji. Benarkah kau menerimaku apa adanya?
Dan apakah kau masih ingat pula, di tahun pertama meninggalnya ibundaku, adalah menjadi saat-saat terberatku dalam hidup, kala ku harus membagi waktu antara urusan rumah tangga dengan aktivitas sekolahku yang mulai padat menjelang Ujian Nasional, kau tahu betul kepedihanku ketika di usiaku yang tidak lagi remaja ternyata masih sangat awam untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga, bahkan untuk mencuci piringpun aku harus belajar dari tetangga, dan untuk hal-hal lain aku memang belajar dari nol, karena aku terbiasa dengan keharusan mencurahkan perhatian penuh pada buku-buku pelajaranku. Namun penguatanmu terhadapku membuktikan semuanya dan sebagian besar pendirian keluarga besarku melunak, akupun bahagia telah kau pilih sebagai seorang yang kau tunggu.
Banyak momen yang telah kita lewati, seluruh anggota keluargamu telah mengenalku dan seolah ku menjadi bagian dari mereka. Ibundamu adalah ibundaku, ayahandaku adalah ayahandamu, adik-adikku adalah adik-adikmu, dan saudara-saudaramupun bisa menerimaku. Terasa amat lengkap dan tak terganti.
Kau adalah laki-laki yang baik, begitulah aku mengenalmu. Meski kerap banyak yang tidak ku fahami dan tak bisa ku terima, perlahan penghargaanku terhadapmu menjulang tinggi. Kebijaksanaan, kedewasaan, dan rencana masa depanmu menjadi bagian yang selalu ku pertimbangkan untuk rangkaian masa depanku.
Kau bisa ikhlas fahamiku meski kadang ku menuntut sesuatu yang sulit untuk kau penuhi. Kau pernah berkata bahwa sejak aku menjadi bagian dari hidupmu, kau bahkan selalu mendahulukanku dari adik-adikmu kala kau harus memilih salah satu dari dua dalam satu momen. Jujur memang aku tersanjung, namun aku sekaligus kecewa atas ketergantunganmu terhadapku, ku berusaha perbaiki diri agar kau tak harus memilih, ku selalu berusaha menjadi kedua setelah urusanmu. Entah berhasil atau tidak karena kau tak pernah bahas lagi.
Syariat memang membatasi kita, membatasi perasaan kita. Meski kerap terjatuh, dengan penuh kesadaran kita selalu berusaha bangkit bersama, semoga Alloh swt memaafkan kekhilafan-kekhilafan diantara kita, kekhilafan yang waktu demi waktu mengikis rasa penghargaanku terhadapmu, kesalahan-kesalahan yang selalu menjadi sebab seolah kau tiada arti lagi, kesalahan-kesalahan yang pada akhirnya menghancurkan pengharapan kita dan menodai niat sucimu. Kesalahan-kesalahan yang membuatmu menjadi seorang yang paling ku benci kala kubuka mataku setiap pagi, menjadi seorang yang paling kubenci kala ku bercermin, menjadi seorang yang amat kubenci keberadaannya kala kujulurkan jilbabku untuk menutupi auratku. Namun aku sadar betul, di luar itu semua, kau menghargaiku, menyayangiku. Aku telah berusaha sekuatku memaafkanmu, dan itu hal yang tak mudah.
Waktu terus berlalu, ada banyak pertengkaran yang selalu ditutup dengan maaf dan memaklumi. Ada banyak catatan yang telah Allah swt tutup sebagai aib yang termaafkan, Insyaallah. Tak terhitung pula momen kala kita saling berdiam diri setelah kita saling bersikeras, saling membentak, saling mencaci, dan saling menyakiti. Terlalu lama dan terlalu sering terutama ketika kita saling jauh, ketika kau tidak memercayaiku, ketika kau selalu seolah menuduhku padahal kau tak tahu banyak tentangku di sini, tidak tahu banyak bagaimana kerasnya ku pertahankan setiaku, tidak tahu banyak bagaimana ku berusaha perbaiki diri menjadi perempuan yang lebih baik, tidak tahu banyak bagaimana inginnya ku kembalikan hukum syara’ sebagai standar hubungan kita, tidak tahu banyak kala ku di sini bersama syari’at yang selalu jadi pertimbanganku. Bagaimana mungkin aku bisa tersenyum karenamu padahal nada suaramu kerap isyaratkan ketidakbaikanku? Bagaimana mungkin aku setersanjung dulu padahal kerap pertengkaran kita selalu disebabkan oleh hal serupa? Bagaimana mungkin aku bisa memaklumi lagi kala pertengkaran kita menjadi sangat berpengaruh terhadap ragaku? Terhadap jiwaku? Terhadap kepercayaan waliku atas kesungguhanmu? Bagaimana mungkin kita saling memaafkan sedang kita sama-sama menangis? Sedang tangisanku adalah wujud keputusasaan dalam perjalanan menuju cita-cita keluargaku? Syarat itu, dimanakah syarat itu? Sudah tak tertanam lagi dan kita selalu saling menyakiti. Entahlah. Dalam doa, ku selalu bertanya, mengapa begini? Mengapa tidak manis lagi? Mengapa tak ada canda tawa lagi? Mengapa ragaku selalu berpura-pura tegar, siapa yang harus bertanggung jawab atas ini? Apa karena kita jauh? Apa karena sejak ku kerap hadapi masalah berat tanpa melibatkanmu? Apa karena egoku, mungkin karena egomu, mungkin karena ketidakfahamanku? Kita sering berdiam diri tanpa solusi, berlarut-larut dan menguras hati. Seolah kebersamaan kita selama ini tak ada arti lagi.
Dengan penuh kesadaran akhirnya aku menyerah. Meski dengan berat hati, waliku merestui keputusan yang menjadi pilihanku, beliau lakukan tugasnya dengan baik, tak ada yang salah…… Namun, beliau berulang kali meminta maaf karena dulu mengizinkanku menerimamu, beliau berulang kali meminta maaf karena tidak meyakinkanku untuk menolak lamaran keluargamu, beliau berulang kali menangis kala putrinya menjadi tidak baik di pandangan mata manusia karena telah membatalkan khitbah, beliau kerap berkata-kata dengan penuh kerendahan diri pada putrinya kala dia temui aku dalam keadaan mata sembab penuh air mata, dan tahukah kau? Itu semua sangat menyakitkan, pedih sekali, itu adalah harga yang harus ku bayar karena ketidakbahagiaanku, itu adalah harga yang harus ku bayar karena ketergesaanku menerimamu hanya dengan alasan bahwa kau laki-laki yang baik.
Namun akhi….
Aku tidak menyesal, karena kau memang laki-laki yang baik, karena akupun menerimamu dengan alasan yang sama sekali tidak salah. Aku ikhlas pernah bersamamu, pernah menjadi calon istrimu, pernah menjadi perempuan yang kau sayangi, Adapun yang sekarang terjadi, semoga kita ikhlas terima ini sebagai qadha yang telah Allah gariskan, kucukupkan ini sebagai pembelajaran hidup bagiku.
Dan akhi…
Dengan adanya peristiwa ini, sejujurnya aku amat enggan tinggal di rumah, bahkan jalan-jalan yang kususuri dari tempatku di sini menuju rumahkupun mengandung kenang tentangmu, kita pernah lewati jalan-jalan ini bukan?.
Kita dan keluarga kita sudah sangat dekat, terutama antara aku dan keluargamu. Ibundamu, adik-adikmu, bibimu, nenek dan kakekmu serta teman-teman seperjuanganmu telah menganggapku sebagai bagian dari mereka… sungguh amat berat, akupun yakin kau merasa demikian. Tapi, memang setelah dirasa-rasa, ini adalah jalan yang terbaik saat ini, mungkin inilah yang Allah swt maksud atas pertengkaran-pertengkaran kita, ketidakcocokan kita, serta ucapanku yang terlontar terakhir kali ketika kita bersitegang, ucapanku yang spontanitas kau kabulkan tanpa pertahankan, aku sungguh kaget mendengar jawabanmu, tapi tak apa, itu semua sudah terjadi, tak bisa diperbaiki lagi. Memang ketika itu kita hanya emosional, tapi ternyata itu benar-benar menjadi akhir yang menyedihkan, egoku yang berani memutuskan semuanya akhirnya kuterima sebagai keputusan dengan penuh kesadaran sebagai sesuatu yang telah Allah gariskan, dan akupun tidak akan pernah menilainya sebagai keterlanjuran karena kita sudah cukup dewasa untuk memahami situasi ini.
Sungguh, jika kawan-kawanku bertanya tentangmu, tentang hubungan kita, aku akan kebingungan menguraikan sebab dari perpisahan kita, aku tak tahu harus mulai dari mana, karena meski mereka kawanku, mereka tak tahu banyak tentangmu, tentang apa yang terjadi pada kita, tak tahu banyak….
Maafkan aku, kita sama-sama menangis karena memang kau juga terluka, maaf atas waktumu, dan maaf atas apa yang telah kau korbankan demi membuatku selalu nyaman denganmu, maafkan atas pertengkaran-pertengkaran itu, dan maafkan atas sempatnya aku memelihara kebencian terhadapmu. Aku hanya manusia biasa yang tidak akan pernah bisa berlaku adil dalam memperlakukan segala sesuatu. Aku mohon maaf, karena sekarang tidak ada cincin yang menyalum di jariku, dan aku mohon maaf karena sekarang kau tidak punya tanggung jawab lagi untuk menungguku. Semoga kau memperoleh perempuan yang lebih baik bagimu dan memang telah Allah siapkan yang terbaik untukmu, untukku. Terasa sakit memang, tapi biar rahmatNyalah menjadi obat bagi luka yang kita rasa, dan seiring dengan berjalannya waktu, semoga kita tak lagi saling membenci dan silaturrahim kita dan keluarga kita tak terputus sampai disini.
Terima kasih dan mohon maaf untuk semuanya.

0 komentar:
Posting Komentar