Kamis, 11 November 2010

Resepsi pernikahan, hemat dan islami

Resepsi pernikahan, hemat dan islami
Dikutip dari media umat/ edisi 38, 5-18 rajab 1431 H/ 18 juni – 1 Juli 2010
Pernikahan merupakan momen sacral yang ditunggu-tunggu dalam perjalanan hidup seseorang. Karena anggapan sebagai momensekali seumur hidup, umumnya resepsi pernikahan dibuat mewah dan berkesan. Walhasil, pernikahan kerap menguras harta orang tua atau juga calon mempelai. Bahkan ada yang nekad pinjem sana-sini demi gengsi menggelar resepsi.
Padahal, resepsi pernikahan bisa dilangsungkan secara hemat tapi berkesan. Lebih dari itu, yang terpenting adalah islami. Nah berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan ketika hendak menggelar resepsi pernikahan:
1.       Prediksikan pengeluaran sejak awal. Ingat, kebutuhan pasca pernikahan jauh lebih besar disbanding pesta pernikahan itu sendiri. Beberapa pos pengeluaran bisa dihemat. Misalnya percetakan undangan, berikan hanya pada mereka yang berpeluang besar untuk hadir dan selama ini kerap interaksi dengan kita. Kenalan lama atau yang di luar kota, cukup sms atau email. Biaya rias pengantin juga bisa dihemat, jika ada teman atau kerabat yang  bisa make-up. Toh pengantin muslim-muslimah tidak perlu dandan menor. Baju pengantin, bila bisa menyewa dengan harga miring, tak perlu membuat sendiri. Toh hanya untuk sekali pakai. Penyediaan souvenir juga bisa dihemat, asal pemilihannya tepat.
2.       Tentukan, resepsi di rumah atau sewa gedung. Kalau keluarga besar jauh di luar kota, memang lebih praktis di gedung. Konsekuensinya ada biaya sewa. Untuk itu harus rajin membanding-bandingkan sewa gedung untuk mendapatkan yang terbaik. Carilah gedung yang tak biasa disewakan untuk pesta, bukan gedung komersil. Misalny, gedung olahraga, gedung kesenian, gedung balai, dan sejenisnya. Biasanya tariff lebih murah. Yangt penting fasilitasnya bagus. Namun bila keluarga besar dekat dan banyak yang bisa membantu, sebaiknya resepsi di rumah saja. Biaya sewa gedung bisa dialihkan untuk membeli seragam panitia biar lebih berwibawa. Atau, kalau kerabat mau menanggung biaya seragam, itu lebih baik.
3.       Catering, memanggil koki atau pesan. Lebih praktis pesan memang. Makanan yang dihidangkan sebaiknya bervariasi dan jumlahnya ditambah 10 persen dari yang diundang untuk mengantisipasi kekurangan. Sediakan banyak meja terpisah dengan hidangan berbeda-beda untuk mencegah antrean.
4.       Pisahkan mempelai dan tamu pria dan wanita. Baik resepsi di rumah atau gedung, jangan dicampur aduk. Untuk itu, agar hadirin maklum, di undangan sudah ditulis “tanpa mengurangi rasa hormat, tamu pria dan wanita dipisah.” Cantumkan pula imbauan agar tamu mengenakan busana menutup aurat.
5.       Batasi jam resepsi untuk efisiensi. Hindari mengundang tamu pada waktu-waktu shalat, sehingga resepsi tidak melalaikan kewajiban, baik bagi pengantin, panitia maupun tamu. Walau itu sedikit sulit namun bisa disiasati.
6.       Tiadakan acara-acara yang tidak islami, seperti acara adat yang masih kuat di tengah-tengah masyarakat. Misalnya tradisi siraman ala jawa. Untuk itu perlu pendekatan kepada tetua , sesepuh maupun panitia pernikahan agar memahami bahwa dalam islam hal-hal seperti itu tidak diajarkan. Selain tidak islami, peniadaan acara-acara adat juga menghemat biaya.

1 komentar:

Raja ampat mengatakan...

berkunjung nih,,,,wah informasi menarik nih,,,harus di pelajari,,,,,makasih yah,,,,saya tunggu kunjungan baliknya yah,,saya di :

http://ardi-lamadi.blogspot.com/2010/08/pemandangan-wisata-waisai-raja-ampat.html



kalo gak keberatan,,,saling follow blog jga bisa

Desain by : Kang Pendi | Template by : x-template.blogspot.com