Selasa, 31 Agustus 2010

Kisah Hikmah

Iblis Terpaksa Bertamu Kepada Rasulullah  SAW
(dari Muadz bin Jabal dari Ibn  Abbas)

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman  seorang sahabat Anshar, tiba - tiba terdengar panggilan seseorang dari  luar rumah: "Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk..? Sebab kalian akan  membutuhkanku. "

Rasulullah bersabda:"Tahukah kalian siapa yang  memanggil?"
Kami menjawab: "Allah dan rasulNya yang lebih  tahu."
Beliau melanjutkan, "Itu Iblis, laknat Allah  bersamanya."
Umar bin Khattab berkata: "izinkan aku membunuhnya wahai  Rasulullah"

Nabi menahannya: "Sabar wahai Umar, bukankah  kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih  baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah  untuk ini,  pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan  baik."

Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka,  ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. di janggutnya terdapat 7 helai rambut  seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya  seperti bibir sapi.

Iblis
berkata: "Salam untukmu Muhammad,... . salam untukmu  para hadirin..."

Rasulullah SAW lalu menjawab:  Salam hanya  milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa  keperluanmu?"

Iblis
menjawab: "Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas  kemauanku, namun karena terpaksa."

" Siapa yang  memaksamu?"

Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku  dan berkata:
"Allah  SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan  diri.beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. jawabalah  dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau  berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup  angin."
oleh  karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku  berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku  daripada cacian musuh."

Orang  Yang Dibenci Iblis

Rasulullah  SAW lalu bertanya kepada Iblis: "Kalau kau benar jujur,  siapakah manusia yang paling kau benci?"

Iblis
segera menjawab: "Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk  Allah yang paling aku  benci."

"Siapa  selanjutnya?"

"Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi  kepada Allah SWT."

"lalu siapa  lagi?"

"Orang Aliim dan wara'  (Loyal)"

"Lalu siapa  lagi?"

"Orang  yang selalu  bersuci."

"Siapa  lagi?"

"Seorang fakir yang sabar dan tak pernah  mengeluhkan kesulitannnya kepda orang lain."

"Apa tanda  kesabarannya?
"

"Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya  kepada orang lain selama 3  hari, Allah akan memberi pahala orang -orang  yang sabar."

" Selanjutnya  apa?"

"Orang kaya yang bersyukur."

"Apa tanda  kesyukurannya?"

"Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan  mengeluarkannya juga dari tempatnya
."

"Orang seperti apa Abu  Bakar menurutmu?
"

"Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam  Islam.
"

"Umar bin  Khattab?"

"Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku  pasti kabur.
"

"Usman bin  Affan?"

"Aku  malu kepada orang yang  malaikat pun malu kepadanya."

"Ali bin Abi  Thalib?"

"Aku  berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan  aku melepaskannya. tetapi ia tak akan mau melakukan itu. "  (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

Amalan Yang  Dapat Menyakiti Iblis


"Apa yang kau rasakan  jika melihat seseorang dari umatku yang hendak  shalat?
"

"aku  merasa panas dingin dan gemetar."

"Kenapa?"

"Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x  kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat."

"Jika seorang umatku  berpuasa?"

"Tubuhku terasa terikat hingga ia  berbuka."

"Jika ia  berhaji?"  

"Aku  seperti orang  gila."

"Jika ia membaca  al-Quran?
"

"Aku merasa meleleh laksana timah diatas  api."

"Jika ia  bersedekah?"

"Itu sama saja  orang tersebut membelah tubuhku  dengan gergaji
."

"Mengapa bisa  begitu?"

"Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya.  yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak  akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam  musibah akan terhalau dari dirinya."

"Apa yang dapat mematahkan  pinggangmu?"

"Suara kuda perang di jalan  Allah."

"Apa yang dapat melelehkan  tubuhmu?"

"Taubat orang yang bertaubat."

"Apa yang dapat membakar  hatimu?"

"Istighfar di waktu siang dan  malam."

"Apa yang dapat mencoreng  wajahmu?"

"Sedekah yang diam - diam."

"Apa yang dapat menusuk  matamu?"

"Shalat fajar."

"Apa yang dapat memukul  kepalamu?"

"Shalat  berjamaah."

"Apa yang paling  mengganggumu?"

"Majelis para  ulama."

"Bagaimana cara  makanmu?"

"Dengan tangan kiri dan  jariku."

"Dimanakah kau menaungi  anak - anakmu di musim panas?"

"Di bawah kuku  manusia."


Manusia Yang Menjadi  Teman Iblis

Nabi  lalu bertanya : "Siapa temanmu wahai  Iblis?"

"Pemakan riba."

"Siapa  sahabatmu?"

"Pezina.
"

"Siapa teman  tidurmu?"

"Pemabuk."

"Siapa  tamumu?"

"Pencuri."

"Siapa  utusanmu?"

"Tukang sihir."

"Apa yang membuatmu  gembira?
"

"Bersumpah dengan  cerai."

"Siapa  kekasihmu?"

"Orang  yang meninggalkan  shalat jumaat"

"Siapa manusia yang paling  membahagiakanmu?"

"Orang  yang meninggalkan shalatnya dengan  sengaja
."


Iblis Tidak Berdaya Di  hadapan Orang Yang Ikhlas

Rasulullah SAW lalu  bersabda : "Segala puji bagi Allah  yang telah membahagiakan umatku dan  menyengsarakanmu."

Iblis
segera menimpali:

"Tidak,tidak... tak akan ada kebahagiaan  selama aku hidup hingga hari akhir.
Bagaimana kau bisa berbahagia  dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan  mereka tak bisa melihatku.  Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga  hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua.  Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang shaleh, kecuali hamba  Allah yang  ikhlas."

"Siapa orang yang ikhlas  menurutmu ?"

"Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa  barang siapa yang menyukai  emas dan perak, ia bukan orang yang  ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan  dirham, tidak suka pujian  dan sanjunang, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku  meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan  dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh  padaku."

Iblis Dibantu oleh 70.000 anak -  anaknya

Tahukah kamu  Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki  70.000 syaithan.

Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk  menggangu anak - anak muda, sebagian untuk menganggu orang -orang tua, sebagian untuk  menggangu wanta - wanita tua, sebagian anak -anakku juga aku tugaskan  kepada para Zahid.

Aku punya anak ynag suka mengencingi telinga  manusia sehingga ia tidur pada shalat berjamaah. tanpanya,  manusia tidak akan  mengantuk pada waktu shalat berjamaah.


aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di  mata orang yang sedang  mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya  terhapus.

Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan  kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan  terhapus.


Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan  duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang  memandanginya.

Syaithan juga berkata,"keluarkan tanganmu", lalu  ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi  kukunya.

mereka, anak - anakku selalu meyusup dan berubah dari satu  kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda  manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.

Akhirnya  mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.

Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada  rahib yang telah beribadat  kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya  hingga ia berzina, membunuh dan kufur.

Cara Iblis Menggoda

Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari  diriku?

Akulah mahluk pertama yang berdusta.

Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa  bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.

Tahukah kau  Muhammad?

Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah  bahwa aku benar - benar menasihatinya.

Sumpah dusta adalah  kegemaranku.

Ghibah (gossip) dan Namimah (Adu domba)  kesenanganku.

Kesaksian palsu kegembiraanku.

Orang yang bersumpah untuk  menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan  walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata - kata  cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu  hingga hari kiamat. jadi semua anak - anak zina dan ia masuk neraka  hanya karena satu kalimat, CERAI.

Wahai Muhammad, umatmu  ada yang suka mengulur  ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikan padanya  waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia  melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya  kemukanya.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat.  Namun aku bisikkan ke telinganya 'lihat kiri dan kananmu', iapun  menoleh. pada saat iatu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya  serta aku katakan 'shalatmu tidak sah'

Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam  shalatnya akan dipukul.

Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia  untuk bergegas. ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.

jika ia  berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjamaah, aku ikat lehernya dengan  tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya  sebelum imam.


Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan  wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.

Jika ia berhasil  mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika  ia tidak menutup mulutnya  ketika mnguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya  menjadi bertambah serakah dan gila dunia.

Dan iapun semakin taat  padaku.

Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku  memerintahkan orang miskin  agar meninggalkan shalat. aku katakan padaknya, 'kamu tidak wajib shalat, shalat hanya  wajib untuk orang yang  berkecukupan dan sehat. orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau  shalat.'

Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil  meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam
kemurkaan.

Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan  menjadikanku debu.

Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira  dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari  islam?
"

10 Hal  Permintaan Iblis kepada Allah SWT

"Berapa hal  yang kau pinta dari  Tuhanmu?"

"10  macam"

"apa  saja?"

"Aku  minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia,  Allah mengizinkan. Allah berfirman,

"berbagilah dengan manusia dalam  harta dan anak. dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali  tipuan." (QS Al-Isra :64)

Harta yang  tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari  makanan haram dan yang  bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama  Allah.

Aku minta  agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan  istrinya tanpa berlindung dengan Allah, maka setan ikut bersamanya dan  anak yang dilahirkan akan  sangat patuh kepada syaithan.

Aku minta agar bisa ikut bersama  dengan orang yang menaiki  kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.

Aku minta agar Allah menjadikan kamar  mandi sebagai rumahku.

Aku minta agar Allah menjadikan pasar  sebagai masjidku.

Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai  Quranku.

Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman  tidurku.

Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia  jadikan orang yang  membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.

Allah  berfirman, "Orang  -orang boros adalah  saudara - saudara syaithan. " (QS Al-Isra : 27).

Wahai Muhammad,  aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara  mereka tidak bisa  melihatku.

Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk  mengalir dalam aliran darah manusia.

Allah menjawab, "silahkan",  dan aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat.

Sebagian besar manusia  bersamaku di hari kiamat.

Iblis berkata : "wahai muhammad,  aku tak bisa menyesatkan  orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan  menggoda."

jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun…
!!!

Sebagaimana  dirimu, kamu tidak bisa  memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan  amanah.

Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir  pun di muka bumi ini.

Kau hanya bisa menjadi penyebab  untuk orang yang telah  ditentukan sengsara.

Orang  yang bahagia adalah orang  yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.

Rasulullah SAW lalu  membaca ayat :

"Mereka akan terus  berselisih kecuali orang  yang dirahmati oleh Allah SWT" (QS Hud :118 -  119)  juga membaca,
"Sesungguhnya  ketentuan Allah pasti berlaku" (QS Al-Ahzab :  38)

Iblis
lalu  berkata:

"Wahai Muhammad Rasulullah, takdir  telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para  nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin  mahluk  mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si  celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku  sampaikan kepadamu. dan aku tak  berbohong."







Sampaikan lah risalah ini kepada saudara2 kita…agar mereka mengerti dengan benar, apakah tugas2 dari Iblis/Syaithan tsb,sehingga kita semua dapat mengetahui dan dapat mencegahnya dan tidak menuruti bisikan dan godaan Iblis/Syaithan… Mudah2an dengan demikian kita dapat setidak2nya membuat hidup ini lebih nyaman…dan membuat tempat serta limgkungan kita lebih aman…..
kisah pencuri

pada tahun 1887, disebuah toko makanan kecil, Seorang pria yang tampak terkemuka berumur lebih kurang 60 tahun
membeli lobak hijau.
Dia menyerahkan kepada pelayan selembar uang dua puluh dolar dan menunggu kembaliannya. Pelayan toko menerima uang dan mulai memasukkannya ke laci sementara dia mengambil kembalian. Walau demikian, dia melihat ada tinta pada jarinya, yang masih basah karena memegang lobak hijau. Dia terkejut dan berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang akan dilakukannya. Setelah sesaat bergulat dengan masalah itu, dia membuat keputusan. Pembeli itu adalah Emmanuel Ninger, teman lama, tetangga, dan pelanggan. Tentunya orang ini tidak akan memberinya uang palsu. Dia pun memberikan kembalian dan pembeli tersebut pun pergi.

Kemudian, si pelayan toko berpikir kembali karena uang dua puluh dolar merupakan jumlah yang sangat besar pada tahun 1887. Dia akhirnya memanggil polisi. Seorang polisi merasa yakin bahwa uang dua puluh dolar itu asli. Polisi lainnya kebingungan tentang tinta yang terhapus. Akhirnya, rasa ingin tahu yang diperpadukan dengan tanggung jawab memaksa mereka untuk meminta surat penggeledahan atas rumah Ninger. Di rumah tersebut, di loteng, mereka menemukan fasilitas untuk mencetak uang lembaran dua puluh dolar. Bahkan mereka menemukan lembaran uang dua puluh dolar yang masih dalam proses pencetakan. Mereka juga menemukan tiga potret diri yang dilukis oleh Ninger.

Ninger adalah seorang pelukis, dan pelukis yang ahli. Dia begitu ahli, sehingga dia melukis lembaran dua puluh dolar dengan tangan! Dengan teliti, goresan demi goresan, dia menggunakan sentuhan keahliannya sedemikian cermat sehingga dia bisa membodohi setiap orang sampai hari itu.

Setelah dia ditangkap, potret dirinya dijual dalam sebuah lelang umum dan terjual seharga $16.000, berarti lebih dari $5.000 per lukisan. Ironi dari kisah ini adalah bahwa Emmanuel Ninger menghabiskan waktu yang tepat sama untuk melukis uang dua puluh dolar seperti yang dilakukannya untuk melukis potret diri seharga $5.000.

Ya, orang cemerlang yang berbakat ini menjadi pencuri dalam segenap arti katanya.
Tragisnya, orang yang paling banyak dicurinya adalah Emmanuel Ninger sendiri. Bukan hanya dia seharusnya menjadi orang kaya secara sah bila dia memasarkan kemampuannya, tetapi seharusnya dia bisa membeli begitu banyak kesenangan dan begitu banyak
keuntungan bagi sesamanya. Dia termasuk dalam daftar pencuri yang tidak ada habis-habisnya mencuri dari dirinya sendiri ketika mereka berusaha mencuri dari orang lain.

Apakah kita adalah "Emmanuel Ninger" yang lain, yang memanfaatkan bakat, ketrampilan, dan diri kita hanya untuk menghasilkan $20, padahal sebenarnya kita bisa menghasilkan $5.000?
apakah kita layaknya seorang Emmanuel Ninger, yang tidak menghargai dan memanfaatkan bakat yang kita punya untuk sesuatu yang berarti, tetapi malah menyia-nyiakannya untuk merusak diri.

yakinlah setiap manusia memiliki potensi dan bakat dalam dirinya... manfaatkanlah bakat tersebut untuk membuat diri melesat, bukan untuk sesuatu yang sia-sia.

Selamat Berjuang!!!
Wanita Buta.

Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dg tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus.
Dg tangannya yg lain di meraba posisi dimana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke Dalam bus mencari-cari bangku yg kosong dg tangannya. Setelah yakin bangku yg dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.

Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta. Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah wanita yg penuh dg ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di linkungannya. Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yg selama ini dicita-citakan.

Merasa tak berguna dan tak ada seorang pun yg sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya. "Bagaimana ini bisa terjadi padaku?" dia menangis. Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdo'a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali.

Diantara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yg begitu penyayang dan setia, Burhan. Burhan adalah seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Yasmin dg seluruh hatinya. Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Yasmin tenggelam kedalam jurang keputus-asaan. Burhan ingin menolong mengembalikan rasa percaray diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta.

Burhan tahu, ini adalah perjuangan yg tidak gampang. Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit.
Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia berhenti dg terhormat. Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile. Dg harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana Yasmin bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Burhan? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yg akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yg berkecamuk di dalam hati Yasmin yg putus asa. Tapi Burhan membimbing Jiwa Yasmin yg sedang frustasi dg sabar. Dia merelakan dirinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah, di mana Yasmin musti belajar huruf Braile.

Dg sabar Burhan menuntun Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah yg dituju. Dg Susah payah dan tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya.
Sementara Burhan berada di sampingnya. Selesai mengantar Yasmin dia menuju tempat dinas. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan mengantar dan menjemput Yasmin. Lengkap dg seragam dinas security.

Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yg harus dijalaninya. Dg hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul dg musibah yg dialaminya.

Seperti yg diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan.
"Saya buta, tak bisa melihat!" teriak Yasmin. "Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya." Burhan hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yg musti dilakukan. Mau tak mau Yasmin musti terima. Musti mau menjadi wanita yg mandiri. Burhan tak melepas begitu saja Yasmin. Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dg tongkatnya. Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada.

Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri, dg tenang Burhan pergi ke tempat dinas. Sementara Yasmin merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yg begitu setia dan sabar membimbingnya.
Memang tak mungkin bagi Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu Diantar ke tempatnya belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yg harus dilakoni. Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yg tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Yasmin yg dulu, yg tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar. Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani rutinitasnya belajar, dg mengendarai bus kota sendirian.

Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata, "saya sungguh iri padamu". Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. "Anda bicara pada saya?" " Ya", jawab sopir bus. "Saya benar-benar iri padamu". Yasmin kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, seorang buta, wanita buta, yg berjalan terseok-seok dg tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri? "Apa maksud anda?" Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu. "Kamu tahu," jawab sopir bus, "Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dg seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan. Dia memperhatikanmu dg harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari
situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yg memperhatikan dan melindungimu" .

Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. Walaupun dia tidak melihat orang tsb, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya sesuatu yg lebih berharga dari penglihatan. Sebuah pemberian yg tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yg membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.

***

Teman, kita ibarat orang buta. Yg diperintahkan bekerja dan berusaha Kita adalah orang buta. Yg diberi semangat untuk terus hidup dan bekerja Kita tak bisa melihat Tuhan dan malaikat.Tapi Dia terus membimbing Seperti cerita Dia memompa semangat kita Cemas dan khawatir dg langkah kita Dan tersenyum puas Melihat kita berhasil melewati ujian-Nya.

http://jifasmart. blogspot. com/
Nenek dan Minyak Goreng

Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang yang ringkih dengan
kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik.
Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk disebelahnya, di atas sebuah
metromini yang menuju ke stasiun KA.

Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya
selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai. Kelok-berkelok.
Hmm...dia
tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana.
Saya pun menjawab mau kerja, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.

Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian
sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk
mendapatkan minyak itu. Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu,
akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya.
Di saat sore, itulah yang bisa
dia berikan buat cucunya.

Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak
punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya.
Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa
mendapatkan minyak dan tepung gratis.

Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang
nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya.
Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali. Saya teringat pada Ibu.
Allah memang maha bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya.

Sudah beberapa saat waktu sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali
makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang
terlalu sok sibuk dengan semua urusan kerja. Sering saat pulang ke rumah, saya
menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak
pagi.

Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena
telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun
sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan,
Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat
saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya
buat saya.

Dia pasti juga akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya.
Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama
seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus,
seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.
7%
Suatu ketika seorang manusia diberi kesempatan untuk
> berkomunikasi dengan Tuhannya dan berkata, "Tuhan
> ijinkan saya untuk dapat melihat seperti apakah Neraka dan
> Surga itu".
>
> Kemudian Tuhan membimbing manusia itu menuju ke dua buah
>
pintu dan kemudian membiarkannya melihat ke dalam.
>
> Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang sangat
> besar, dan di tengahnya terdapat
semangkok sup yang beraroma
> sangat lezat yang membuat manusia tersebut mengalir air
> liurnya. Meja tersebut dikelilingi orang-orang yang kurus
> yang tampak sangat kelaparan.
>
> Orang-orang itu masing-masing
memegang sebuah sendok yang
> terikat pada tangan masing-masing. Sendok tersebut cukup
> panjang untuk mencapai mangkok di tengah meja dan mengambil
> sup yang lezat tadi.
>
> Tapi karena sendoknya terlalu panjang, mereka tidak dapat
> mencapai mulutnya dengan sendok tadi untuk memakan sup yang
> terambil.
>
> Si Manusia tadi merinding melihat penderitaan dan
> kesengsaraan yang dilihatnya dalam ruangan itu.
>
> Tuhan berkata, "Kamu sudah melihat NERAKA"
>
> Lalu
mereka menuju ke pintu kedua yang ternyata berisi meja
> beserta sup dan orang-orang yang kondisinya persis sama
> dengan ruangan di pintu pertama.
Perbedaannya, di dalam
> ruangan ini orang-orang tersebut berbadan sehat dan berisi
> dan mereka sangat bergembira di keliling meja tersebut.
>
> Melihat keadaan ini si Manusia menjadi bingung dan berkata
> "Apa
yang terjadi ? kenapa di ruangan yang kondisinya
> sama ini mereka terlihat lebih bergembira ?"
>
> Tuhan kemudian menjelaskan, "Sangat sederhana, yang
> dibutuhkan hanyalah satu sifat baik"
>
> "Perhatikan bahwa orang-orang ini dengan ikhlas
> menyuapi orang lain yang dapat dicapainya dengan sendok
> bergagang panjang, sedangkan di ruangan lain orang-orang
> yang serakah hanyalah memikirkan kebutuhan dirinya sendiri
> "
>
> Diperkirakan bahwa 93% penerima tidak akan memforward

> cerita ini . Bila anda termasuk sisa 7% yang akan memforward
> nya, lakukanlah dengan memberi judul 7% pada title nya.
>
> Saya
termasuk yang 7% tadi, ingatlah saya akan selalu ada
> untuk berbagi sendok dengan anda!
> (Diterjemahkan dan diforward dari milis tetangga)
Perangkap

Teman, saya pernah membaca suatu hal yang menarik tentang perangkap. Suatu
sistem yang unik, telah dipakai di hutan-hutan Afrika untuk menangkap monyet
yang ada disana. Sistem itu memungkinkan untuk menangkap monyet dalam keadaan
hidup, tak cedera, agar bisa dijadikan hewan percobaan atau binatang sirkus di
Amerika.

Caranya sangat manusiawi (*umm...atau mungkin hewani kali ye..hehehe*) . Sang
pemburu monyet, akan menggunakan sebuah toples berleher panjang dan sempit, dan
menanamnya di tanah. Toples kaca yang berat itu berisi kacang, ditambah dengan
aroma yang kuat dari bahan-bahan yang disukai monyet-monyet Afrika. Mereka
meletakkannya di sore hari, dan mengikat/menanam toples itu erat-erat ke dalam
tanah. Keesokan harinya, mereka akan menemukan beberapa monyet yang
terperangkap, dengan tangan yang terjulur, dalam setiap botol yang dijadikan
jebakan.

Tentu, kita tahu mengapa ini terjadi. Monyet-monyet itu tak melepaskan tangannya
sebelum mendapatkan kacang-kacang yang menjadi jebakan. Mereka tertarik pada
aroma yang keluar dari setiap toples, lalu mengamati, menjulurkan tangan, dan
terjebak. Monyet itu, tak akan dapat terlepas dari toples, sebelum ia melepaskan
kacang yang di gengamnya. Selama ia tetap mempertahankan kacang-kacang itu,
selama itu pula ia terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat, sebab
tertanam di tanah. Monyet tak akan dapat pergi kemana-mana.

Teman, kita mungkin tertawa dengan tingkah monyet itu. Kita bisa jadi terbahak
saat melihat kebodohan monyet yang terperangkap dalam toples. Tapi, mungkin,
sesungguhnya, kita sedang menertawakan diri kita sendiri. Betapa sering, kita
mengengam setiap permasalahan yang kita miliki, layaknya monyet yang mengenggam
kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberikan maaf, tak mudah melepaskan
maaf, memendam setiap amarah dalam dada, seakan tak mau melepaskan selamanya.

Seringkali, kita, yang bodoh ini, membawa "toples-toples" itu kemana pun kita
pergi. Dengan beban yang berat, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar,
kita sebenarnya sedang terperangkap dengan persoalan pribadi yang kita alami.

Teman, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan
menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah lebih menyenangkan, untuk
memberikan maaf bagi setiap orang yang pernah berbuat salah kepada kita? Karena,
kita pun bisa jadi juga bisa berbuat kesalahan yang sama. Bukankah lebih terasa
nyaman, saat kita membagikan setiap masalah kepada orang lain, kepada teman,
agar di cari penyelesaiannya, daripada terus dipendam?

PERKELAHIAN AYAM JANTAN DAN SEEKOR ELANG
Di suatu daerah pertanian,
hiduplah dua ekor ayam jantan yang saling bermusuhan dan sering berkelahi
antara keduanya.
Pada suatu hari, mereka memulai pertengkaran dan kembali
berkelahi, saling mematuk dan mencakar. Mereka berkelahi terus hingga salah
satunya di kalahkan dan lari menjauh ke sudut untuk bersembunyi.

Ayam jantan yang memenangkan
perkelahian itu dengan bangganya terbang ke atas atap kandang, dan
mengkepak-kepakkan sayapnya, berkokok dengan sangat bangga dan kerasnya seolah-olah
dia ingin memberi tahukan ke seluruh dunia tentang kemenangannya. Tetapi saat
itu seekor burung elang yang terbang di udara mendengar dan akhirnya melihat
ayam tersebut di atas atap. Burung elang tersebut akhirnya turun dan menyambar
dan menerkam ayam jantan yang jadi pemenang tadi untuk dibawa ke sarangnya.

Ayam yang satunya yang
tadinya dikalahkan, melihat seluruh kejadian itu dan keluar dari tempat
persembunyiannya dan mengambil tempat sebagai pemenang di perkelahian tadi.
Rasa sombong
menyebabkan kejatuhan

wassalam
PEMERAH SUSU DAN EMBERNYA (RE)
Alhamdulillah, terima kasih telah di ingatkan.
"Jangan menghitung ayam yang belum menetas."
Akan Lebih Real, Jika Kita menghitung Telur yang kita miliki...
Dan Fokuslah Pada apa yang di kerjakan pada saat ini.
Impian dan Angan-angan bukan lah cita-cita.
Ketika kita sedang berkerja, lalu kita melamun dan berkhayal, maka terbengkalailah pekerjaan kita saat ini. atau konsentrasi kita jadi hilang...
Ketika kita menyetir kendaraan atau berprofesi sebagai pembalap... lalu kita bermimpi telah sampai di garis finish dan menjadi pemenangnya. .. maka ketika bendera start dikibarkan kita tak sadar kalo kita belum melaju dari posisi start.
Mimpi, angan-angan dan cita-cita atau yang lainnya, bisa menimbulkan motivasi, tapi sadarlah bahwa kita belum bergerak(kita masih berselimut didalam tudur kita).
Dan Ingatlah pada kemampuan diri, sejauh apa langkah kita dalam setiap langkahnya.
walaupun satu langkah kita berjarak 2 meter tapi bila pijakannya hanya berjarak 1 meter, maka berjalanlah sesuai pijakan, agar kita tak jatuh..
terimakasih.
wassalam.
Pemerah Susu dan Embernya.

Seorang wanita pemerah susu
telah memerah susu dari beberapa ekor sapi dan berjalan pulang kembali dari
peternakan, dengan seember susu yang dijunjungnya di atas kepalanya. Saat dia
berjalan pulang, dia berpikir dan membayang-bayangkan rencananya kedepan.
"Susu yang saya perah
ini sangat baik mutunya," pikirnya menghibur diri, "akan memberikan
saya banyak cream untuk dibuat. Saya akan membuat mentega yang banyak dari
cream itu dan menjualnya ke pasar, dan dengan uang yang saya miliki nantinya,
saya akan membeli banyak telur dan menetaskannya, Sungguh sangat indah
kelihatannya apabila telur-telur tersebut telah menetas dan ladangku akan
dipenuhi dengan ayam-ayam muda yang sehat. Pada suatu saat, saya akan
menjualnya, dan dengan uang tersebut saya akan membeli baju-baju yang cantik
untuk di pakai ke pesta. Semua pemuda ganteng akan melihat ke arahku. Mereka
akan datang dan mencoba merayuku, tetapi saya akan mencari pemuda yang memiliki
usaha yang bagus saja!"

Ketika dia sedang memikirkan
rencana-rencananya yang dirasanya sangat pandai, dia menganggukkan kepalanya
dengan bangga, dan tanpa disadari, ember yang berada di kepalanya jatuh ke
tanah, dan semua susu yang telah diperah mengalir tumpah ke tanah, dengan itu
hilanglah semua angan-angannya tentang mentega, telur, ayam, baju baru beserta
kebanggaannya.

Jangan menghitung ayam yang
belum menetas.
PRASANGKA
Dikisahkan, seorang janda miskin hidup berdua dengan putri
kecilnya yang masih berusia sembilan tahun. Kemiskinan memaksanya
untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar demi
kelangsungan hidup mereka. Hidup penuh kekurangan membuat si kecil
tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya seperti anak-anak kecil
lainnya.

Suatu hari di musim dingin, saat selesai membuat
kue, si ibu tersadar melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak
berat. Dia pun keluar rumah untuk membeli keranjang baru dan berpesan
kepada putrinya agar menunggu saja di rumah. Pulang dari membeli
keranjang, si ibu menemukan pintu rumah tidak terkunci dan putrinya
tidak ada di rumah. Spontan amarahnya memuncak. Putri betul-betul
tidak tahu diri! Cuaca dingin seperti ini, disuruh diam di rumah
sebentar saja malahan pergi bermain dengan teman-temannya!

Setelah
selesai menyusun kue di keranjang, si ibu segera pergi untuk
menjajakan kuenya. Dinginnya salju yang memenuhi jalanan tidak
menyurutkan tekadnya demi kehidupan mereka. Dan sebagai hukuman untuk
si putri, pintu rumah di kuncinya dari luar. "Kali ini Putri
harus diberi pelajaran karena telah melanggar pesan," geram si
ibu dalam hati.

Sepulang dari menjajakan kue, mata si ibu
mendadak nanar saat menemukan gadis kecilnya tergeletak di depan
pintu. Dengan berteriak histeris segera dipeluknya tubuh putrinya
yang telah kaku karena kedinginan. Dengan susah payah
dipindahkannyalah tubuh putri ke dalam rumah.

"Putri...Putri. ..Putri.. ., bangun, Nak! Ini ibu, Nak!
Bangun, Nak! Ibu tidak marah kok. Bangun Putri anakku!" Serunya
sambil menangis merung-raung dan berusaha sekuat tenaga membangunkan
dengan menguncang-guncangk an tubuh si putri agar terbangun. Tetapi
putri tidak bereaksi sama sekali.

Tiba-tiba terjatuh dari
genggaman tangan si putri sebuah bungkusan kecil. Saat dibuka,
ternyata di dalamnya berisi sebungkus kecil biskuit dan secarik
kertas usang.
Dengan tergesa-gesa dan tangan yang gemetar hebat, si
ibu segera mengenali tulisan putrinya yang masih berantakan tetapi
terbaca jelas.

"Ibuku tersayang, Ibu pasti lupa hari
istimewa Ibu ya. Hi... hi... hi..., ini Putri belikan biskuit
kesukaan ibu. Maaf Bu, uang putri tidak cukup untuk membeli yang
besar dan maaf lagi Putri telah melanggar pesan Ibu karena
meninggalkan rumah untuk membeli biskuit ini.
Selamat ulang tahun,
Bu. Putri selalu sayang, Ibu!" Dan meledaklah tangis sang ibu.

Sahabat,

Huai Ie, prasangka sering mendatangkan petaka
adalah kalimat yang cocok dengan kisah tadi dan penyesalan biasanya
datang menyusul di belakang itu. Begitu banyak masalah dan problem di
dunia ini muncul karena prasangka negatif maka butuh kedewasaan dalam
mengendalikan pikiran agar kebiasaan berprasangka tidak kita layani
begitu saja dan sedapat mungkin kita hilangkan. Kita ganti dengan
berfikir positif sekaligus hati-hati dengan demikian memungkinkan
hubungan kita dengan orang lain akan menjadi harmonis dan
membahagiakan.

Artikel by Andre Wongso
Keberanian

Suatu ketika seorang Indian muda, mendatangi tenda ayahnya. Di dalam sana, duduk
seorang tua, dengan pipa panjang yang mengepulkan asap. Matanya terpejam, tampak
sedang bersemadi. Hening. "Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok pagi?" tanya
Indian muda itu memecahkan kesunyian disana. Mata sang Ayah membuka perlahan,
sorot matanya tajam, memandang ke arah anak paling disayanginya itu. Kepala suku
itu hanya diam.

"Ya Ayah, bolehkah aku ikut berburu besok?
Lihat, aku sudah mengasah pisauku.
Kini semuanya tajam dan berkilat." Tangan si kecil merogoh sesuatu dari balik
kantung kulitnya. Sang Ayah masih diam mendengarkan. "Aku juga sudah membuat
panah-panah untuk bekalku berburu. Ini, lihatlah Ayah, semuanya pasti tajam.
Busurku pun telah kurentangkan agar lentur. Pasti aku akan menjadi Indian
pemberani yang hebat seperti Ayah. Ijinkan aku ikut Ayah." Terdengar permintaan
merengek dari si kecil.

Suasana masih tetap senyap. Keduanya saling pandang. Terdengar suara berat sang
Ayah, "Apakah kamu sudah berani untuk berburu?
"Ya!" segera saya terdengar
jawaban singkat dari si kecil. "Dengan pisau dan panahku, aku akan menjadi yang
paling hebat." Sang Ayah tersenyum, "Baiklah, kamu boleh ikut besok, tapi ingat,
kamu harus berjalan di depan pasukan kita. Mengerti?" Sang Indian muda
mengangguk.

Keesokan hari, pasukan Indian telah siap di pinggir hutan.
Kepala suku, dan
Indian muda, berdiri paling depan. "Hari ini anakku yang akan memimpin perburuan
kita. Biarkan dia berjalan di depan." Indian muda itu tampak gagah. Ada beberapa
pisau yang terselip di pinggang. Panah dan busur, tampak melintang penuh di
punggungnya. Ini adalah perburuan pertamanya. Si kecil berteriak nyaring, "ayo
kita berangkat."

Mereka mulai memasuki hutan. Pohon-pohon semakin rapat, dan semak semakin
meninggi. Sinar matahari pun tak leluasa menyinari lebatnya hutan. Mulai
terdengar suara-suara dari binatang yang ada disana. Indian kecil yang tadi
melangkah dengan gagah, mulai berjalan hati-hati. Parasnya cemas dan takut.
Wajahnya sesekali menengok ke belakang, ke arah sang Ayah.
Linglung, dan ngeri.
Tiba-tiba terdengar beberapa suara harimau mengaum.
"Ayah...!!" teriak si kecil.
Tangannya menutup wajah, dan ia berusaha lari ke belakang. Sang Ayah tersenyum
melihat kelakuan anaknya, begitupun Indian lainnya.

"Kenapa? Kamu takut? Apakah pisau dan panahmu telah tumpul? Mana keberanian yang
kamu perlihatkan kemarin?" Indian muda itu terdiam. "Bukankah kamu bilang, pisau
dan panahmu dapat membuatmu berani? Kenapa kamu takut sekarang? Lihat Nak,
keberanian itu bukan berasal dari apa yang kau miliki. Tapi, keberanian itu
datang dari sini, dari jiwamu, dari dalam dadamu." Tangan Kepala Suku menunjuk
ke arah dada si kecil.

"Kalau kamu masih mau jadi Indian pemberani, teruskan langkahmu. Tapi jika, di
dalam dirimu masih ada jiwa penakut, ikuti langkah kakiku." Indian muda itu
masih terdiam. "Setajam apapun pisau dan panah yang kau punya, tak akan
membuatmu berani kalau jiwamu masih penakut. Sekuat apapun busur telah kau
rentangkan, tak akan membuatmu gagah jika jiwa pengecut lebih banyak berada di
dalam dirimu." "...Aauummmm. " Tiba-tiba terdengar suara harimau yang mengaum
kembali. Indian muda kembali pucat. Ia memilih untuk berjalan di belakang sang
Ayah.

***

Keberanian. Apakah itu keberanian? Keberanian bukanlah rasa yang dimiliki oleh
orang yang menganggap dirinya memiliki segalanya. Keberanian juga bukan
merupakan rasa yang berasal dari sifat-sifat sombong dan takabur. Keberanian
adalah jiwa yang berasal dari dalam hati, dan bukan dari materi yang kita
miliki. Keberanian adalah sesuatu yang tersembunyi yang membuat orang tak pernah
gentar walau apapun yang dia hadapi.

Saya percaya, keberanian bukan berasal dari apa yang kita sandang atau kita
miliki.
Keberanian bukan datang dari apa yang kita pamerkan atau yang kita
punyai. Tapi, teman, keberanian adalah datang dari dalam diri, dari dalam dada
kita sendiri. Keberanian adalah sesuatu yang melingkupi perasaan kita, dan
menjadi bekal dalam setiap langkah yang kita ayunkan.

Teman, mungkin saat ini kita diberikan banyak kemudahan, dan membuat kita merasa
cukup berani dalam menjalani hidup. Kita mungkin dititipkan kelebihan-kelebihan
dan membuat kita takabur bahwa semua masalah akan mampu di hadapi. Mungkin saat
ini kita kaya, rupawan, berpendidikan tinggi, dan berkedudukan bagus, tapi
apakah itu bisa menjadi jaminan bahwa kita akan selamanya dapat menjalani hidup
ini? Apakah itu akan selamanya cukup untuk menjadi bekal kita dalam "perburuan"
hidup ini?

Jadilah Indian muda yang tetap melangkah, dengan jiwa pemberani yang hadir dari
dalam hati, dan BUKAN dari pisau dan panah yang telah diasah.
Jadilah Indian
muda yang tak pernah gentar mendengar suara harimau, sekeras apapun suara itu
terdengar. Jadilah Indian muda yang tetap yakin dengan pilihan keberanian yang
ia putuskan. Jangan gentar, jangan surut untuk melangkah.
Kupu-Kupu

Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung.
Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata
angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya puas.
Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain
disana.

"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek
tua. "Apa yang kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak
Tua. Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak
juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan
lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku
harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di
pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada
sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor
kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku
dengan tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.

Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa
lama, dijumpainya taman itu.
Taman yang yang semarak dengan pohon dan
bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan
disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat
pemuda yang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran.
Perlahan. Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain.
Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari
tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk
mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya
semakin liar.

Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat
ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak
naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda.
Istirahatlah. " Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada
sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka
terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.

"Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak
tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap
pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin
kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi
dari dirimu."

"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan
benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah
kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari
kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."

Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang
hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan
keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang
mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu
indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.

***

Teman, mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi
mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka
cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak
sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja
mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat
meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap
setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan
cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di
genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan
adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam
hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari
kita.
Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan
menjauh.

Teman, cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu
menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap
langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup
kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia
itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan
mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah
memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita,
namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.  ***
Cerita lainnya, silahkan sillaturahim ke blog saya,
http://jifasmart. blogspot. comTETAP ISTIQOMAH DALAM DAKWAH!
Dua Ekor Singa

Suatu sore di tengah telaga, terlihat dua orang yang sedang memancing.
Tampaknya, ada ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu mereka disana.
Dengan perahu kecil, keduanya sibuk mengatur joran dan umpan. Air telaga
bergoyang perlahan, membentuk riak-riak air. Gelombangnya mengalun menuju
tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana
begitu tenang, hingga terdengar sebuah percakapan.

"Ayah."
"Hmm..ya.." Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung
kailnya yang terjulur. "Beberapa malam ini," ucap sang anak, "aku bermimpi
aneh. Dalam mimpiku, ada dua ekor singa yang tampak sedang berkelahi dalam
hatiku. Gigi-gigi mereka, terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk
mencakar dan menggeram, seperti saling ingin menerkam.
Mereka tampak ingin
saling menjatuhkan. "

Anak muda ini terdiam sesaat. Lalu, mulai melanjutkan cerita, "singa yang
pertama, terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya
pun kokoh dan bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar
menenangkan buatku."

Ayah mulai menolehkan kepala, dan meletakkan pancingnya di pinggir haluan.
"Tapi, Ayah, singa yang satu lagi tampak menakutkan buatku. Geraknya tak
beraturan, sibuk menerjang kesana-kemari. Punggungnya pun kotor, dan bulu
yang koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.

"Aku bingung, apakah maksud dari mimpi ini. Apakah singa-singa itu adalah
gambaran dari sifat-sifat baik dan buruk yang aku punya? Lalu, singa yang
mana yang akan memenangkan pertarungan itu, karena sepertinya mereka
sama-sama kuat?

Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah mulai
angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda gagah di depannya. Sambil
tersenyum, ayah berkata, "pemenangnya adalah, yang paling sering kamu beri
makan."

Ayah kembali tersenyum, dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu hentakan
kuat, di lontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali
pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa
sayap-sayap angsa putih di tepian telaga.

***
Teman, begitulah. Setiap diri kita, punya dua ekor "singa" yang selalu
bersaing. Keduanya, memang selalu saling menjatuhkan. Mereka berusaha untuk
menjadi pemimpin bagi yang lainnya. Pertarungan diantara mereka, tak pernah
tuntas, karena bisa jadi sering terjadi pergantian pemenang bagi keduanya.
Kalah-menang, dalam persaingan macam ini, layaknya mata koin yang selalu
berganti-ganti. Dan kita sering dibuat bingung, sebab kedua kekuatan
baik-buruk ini terlihat sama kuatnya.

Tapi, siapakah pemenangnya saat ini dalam diri Anda? Singa yang kokoh,
dengan bulu-bulu yang teratur, dan gerakan yang mantap serta pasti, ataukah
singa yang sibuk menerjang kesana kemari, dengan bulu-bulu yang koyak, dan
seringai yang menakutkan? Lalu, singa macam apa yang kini sedang menguasai
Anda, "singa" yang optimis, pantang menyerah, tekun, sabar, damai, rendah
hati, dan toleran, ataukah "singa" yang pesimis, tertekan, mudah menyerah,
sombong dan penuh dengki?

Saya percaya, kita sendirilah yang menentukan kemenangan bagi kedua
singa-singa itu. Jika kita sering memberi "makan" pada singa yang damai
tadi, maka imbalan kebaikanlah yang akan kita dapatkan. Jika kita terbiasa
untuk memupuk optimis dan pantang menyerah, maka "singa" keberhasilan lah
yang akan kita peroleh. Namun sebaliknya, jika setiap saat kita memendam
marah, menebar prasangka dan dengki, bersikap tak sabar dan mudah menyerah,
maka, akan jelaslah "singa" macam apa yang jadi pemenangnya.

Teman, biarkan "singa-singa" penuh semangat hadir dalam jiwa Anda. Rawatlah
singa-singa itu dengan keluhuran budi, dan kebersihan nurani. Susunlah
bulu-bulu kedamaiannya, cermati terus rahang persahabatannya. Perkuat
punggung optimisnya, dan pertajam selalu kuku-kuku kesabaran miliknya.
Biarkan singa ini yang jadi pemenang.

Namun, jangan biarkan "singa-singa" pemarah menguasai pikiran Anda. Jangan
pernah berikan kesempatan bagi kedengkian itu untuk membesar, dan menjadi
penghalang keberhasilan.
Jangan biarkan rasa pesimis, jiwa yang gundah, tak
sabar dan rendah diri menjadi pemimpin bagi Anda.

Saya percaya, imbalan yang kita peroleh, adalah gambaran dari apa yang kita
berikan hari ini.
Lalu, singa mana yang akan Anda beri makan hari ini?
Pematung Raja

Suatu ketika, hiduplah seorang pematung. Pematung ini, bekerja pada seorang raja
yang masyhur dengan tanah kekuasaannya. Wilayah pemerintahannya sangatlah luas.
Hal itu membuat siapapun yang mengenalnya, menaruh hormat pada raja ini.

Sang pematung, sudah lama sekali bekerja pada raja ini. Tugasnya adalah membuat
patung-patung yang diletakkan menghiasi taman-taman istana. Pahatannya indah,
karena itulah, ia menjadi kepercayaan raja itu sejak lama. Ada banyak raja-raja
sahabat yang mengagumi keindahan pahatannya saat mengunjungi taman istana.

Suatu hari, sang raja mempunyai rencana besar. Baginda ingin membuat patung dari
seluruh keluarga dan pembantu-pembantu terbaiknya. Jumlahnya cukup banyak, ada
100 buah. Patung-patung keluarga raja akan di letakkan di tengah taman istana,
sementara patung prajurit dan pembantunya akan di letakkan di sekeliling taman.
Baginda ingin, patung prajurit itu tampak sedang melindungi dirinya.

Sang pematung pun mulai bekerja keras, siang dan malam. Beberapa bulan kemudian,
tugas itu hampir selesai. Sang Raja kemudian datang memeriksa tugas yang di
perintahkannya. “Bagus. Bagus sekali, ujar sang Raja. “Sebelum aku lupa, buatlah
juga patung dirimu sendiri, untuk melengkapi monumen ini.”

Mendengar perintah itu, pematung ini pun mulai bekerja kembali. Setelah beberapa
lama, ia pun selesai membuat patung dirinya sendiri. Namun sayang, pahatannya
tak halus. Sisi-sisinya pun kasar tampak tak dipoles dengan rapi. Ia berpikir,
untuk apa membuat patung yang bagus, kalau hanya untuk di letakkan di luar
taman. “Patung itu akan lebih sering terkena hujan dan panas,” ucapnya dalam
hati, pasti, akan cepat rusak.”

Waktu yang dimintapun telah usai. Sang raja kembali datang, untuk melihat
pekerjaan pematung. Ia pun puas. Namun, ada satu hal kecil yang menarik
perhatiannya. “Mengapa patung dirimu tak sehalus patung diriku? Padahal, aku
ingin sekali meletakkan patung dirimu di dekat patungku. Kalau ini yang terjadi,
tentu aku akan membatalkannya, dan menempatkan mu bersama patung prajurit yang
lain di depan sana.”

Menyesal dengan perrbuatannya, sang pematung hanya bisa pasrah. Patung dirinya,
hanya bisa hadir di depan, terkena panas dan hujan, seperti harapan yang
dimilikinya.

***

Teman, seperti apakah kita menghargai diri sendiri? Seperti apakah kita
bercermin pada diri kita? Bagaimanakah kita menempatkan kebanggaan atas diri
kita? Ada kalanya memang, ada orang-orang yang selalu pesimis dengan dirinya
sendiri. Mereka, kerap memandang rendah kemuliaan yang mereka miliki.

Namun, apakah kita mau dimasukkan ke dalam bagian itu. Saya percaya, tak banyak
orang yang menghendaki dirinya mau dimasukkan sebagai orang yang pesimis. Kita
akan lebih suka menjadi orang yang bernilai lebih. Sebab, Allah pun menciptakan
kita tak dengan cara yang main-main. Allah menciptakan kita dengan kemuliaan
mahluk yang sempurna.

Dan teman, sesungguhnya, kita sedang memahat patung diri kita saat ini. Tapi
patung seperti apakah yang sedang kita buat? Patung yang kasar, yang tak halus
pahatannya, ataukah patung yang indah, yang memancarkan kemuliaan-Nya? Patung
yang bernilai mahal, yang menjadi hiasan terindah, atau patung yang berharga
murah yang tak layak diletakkan di tempat utama?

Memang, tak ada yang tahu akan ditempatkan dimana patung-patung diri kita kelak.
Karena hanya Allah lah Maha Tahu. Karenanya, bentuklah patung-patung itu dengan
indah. Pahatlah dengan halus, agar kita bisa ditempatkan di tempat yang terbaik,
di sisi-Nya. Poleslah setiap sisinya dengan kearifan budi, dan kebijakan hati,
agar memancarkan keindahan. Susuri setiap lekuknya dengan kesabaran, dan
keikhlasan.

Pahatan yang kita torehkan saat ini, akan menentukan tempat kita di akhirat
kelak. Bentuklah "patung" diri Anda dengan indah!
Sebuah Batu Kusam...

Suatu ketika ada seorang pengrajin batu berjalan di gunung yang sangat
gersang. Di tengah jalan ia melihat sebuah batu coklat yang sangat
kusam dan sudah di selimuti dengan lumut serta terlihat begitu lapuk
dari luar. Lalu si pengrajin batu tersebut mengambil sebuah palu besar
dan langsung menghantamkannya ke batu tersebut, akhirnya batu tersebut
terpecah menjadi beberapa bagian dan mulai terlihat warna putih sebagai
warna asli batu tersebut.

Batu itu kemudian dibawa oleh si
pengrajin tersebut ke rumahnya. Disana si batu itu mulai di poles, di
potong untuk dirapihkan bentuknya kemudian di haluskan dengan
mengamplasnya. Siang dan malam si pengrajin tak pernah lelah, ia terus
menerus berusaha untuk menjadikan batu itu indah sebagai penghias
cincin. Hingga tiba waktunya si batu yang kusam tadi berubah menjadi
sebuah batu cincin yang bernilai dan sangat berharga.

Batu
kusam di gunung itu seperti kita di dalam kehidupan. Untuk menjadi
sebuah batu yang bernilai, ia harus melewati berbagai macam proses,
mulai dari yang ringan sampai yang berat, siang dan malam terus dipoles
supaya hasilnya memiliki keindahan. Begitupun juga kondisi diri kita di
kehidupan, jika kita ingin memiliki nilai yang lebih tinggi dan
berharga, maka kita harus bisa melewati serangkaian proses pemolesan
dan pembentukan yang telah Allah buat untuk kita. Dan tentunya harus
disertai dengan kesabaran dan keikhlasan dalam melaksanakannya. Jadi,
selamat berjuang dalam pembentukan- pembentukan yang telah Allah rancang
untuk kita dan semoga kita bisa menjadi lebih bernilai...

Eko Joko Maryanto
Tecnical Instructor
PT. United Tractors Tbk
www.masjm.blogspot. Com
Pasir dan Pahatan Batu

Suatu ketika, ada sepasang pengembara yang sedang melakukan perjalanan. Mereka,
kini tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang,
hanya ada horison pasir yang terbentang.

Tapak-tapak kaki yang ada di belakang mereka, membentuk jejak-jejak yang tak
putus. Susunannya meliuk-liuk, tampak seperti kurva garis, yang berujung di
setiap langkah yang mereka lalui. Sesekali debu-debu pasir menerpa tubuh, dan
membuat mereka berjalan merunduk, agar terhindar dari badai kecil itu.

Tiba-tiba, ada sebuah badai besar yang datang. Hembusannya sangat kuat, membuat
tubuh mereka bergoyang, dan limbung. Terpaan yang begitu kuat segera membuat
ujung-ujung pakaian mereka berkibar-kibar, mengelepak, dan mendorong tubuh
mereka ke arah belakang.
Untunglah, mereka saling berpegangan, dan dapat
bertahan dari badai itu.

Namun, ada musibah lain yang menimpa mereka. Bekal minum mereka terbuka, dan
terbawa angin yang kuat tadi. “Ah..kita akan mati kehausan disini, “ ujar
seorang pengembara. Lelah bertahan seusai badai, keduanya duduk tercenung,
menyesalkan hilangnya bekal minum mereka. Seseorang dari mereka, tampak menulis
sesuatu di atas pasir dengan ujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan bekal
minuman kami di tempat ini.” Pengembara yang lain tampak bingung, namun tetap
membereskan perlengkapannya.

Badai sudah benar-benar usai, dan keduanya pun melanjutkan perjalanan. Setelah
lama menyusuri padang, mereka melihat sebuah oasis di kejauhan. “Kita selamat,
seru seorang pengembara, “lihat, ada air disana.” Mereka setengah berlari ke
arah air itu. Untunglah, itu bukan fatamorgana.

Tampaklah sebuah kolam kecil dengan air yang cukup banyak. Keduanya pun segera
minum sepuas-puasnya, dan mengambil sisanya untuk bekal perjalanan. Sambil
beristirahat, pengembara yang sama mulai menulis sesuatu. Pisau yang
digenggamnya digunakan untuk memahat di atas sebuah batu.
“Kami bahagia. Kami
dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”

Merasa bingung dengan tingkah sahabatnya, pengembara yang lain mulai bertanya.
“Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi engkau menulis di atas
pasir saat kita kehilangan bekal minum? Tersenyum mendengar pertanyaan itu, sang
sahabat mulai menjawab. “Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu dalam
pasir. Biarkan angin keikhlasan akan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan
catatan itu akan hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya
lenyap dan pupus.”

“Namun, ingatlah, saat kita mendapat kebahagiaan, pahatlah kemuliaan itu dalam
batu, agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan
kesenangan itu dalam kerasnya batu, agar tak ada sesuatu yang dapat
menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya
tersimpan.”

Keduanya kembali tersenyum.
Bekal minuman telah cukup, dan merekapun kembali
meneruskan perjalanan mereka.

***

Teman, ada kalanya memang, kita menemui kesedihan dan kebahagiaan. Ada kalanya,
keduanya hadir berselang-seling, saling berganti mewarnai panjangnya jalan hidup
ini. Keduanya, saya yakin, memberikan kita semacam memori yang kerap membuat
kita terkenang.

Namun, adakah kita mau bersikap seperti pengembara tadi? Maukah kita menjadi
seorang yang pemaaf, yang mampu untuk menuliskan setiap kesedihan dalam pasir,
agar angin keikhlasan mampu membawanya pergi? Maukah kita menjadi seorang yang
tegar, yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin
ketulusan?

Dan teman, cobalah pula untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan
yang kita miliki. Simpanlah semua itu dalam kekokohan hati kita, agar tak ada
apapun yang mampu menghapusnya. Torehlah kenangan kebahagiaan itu, agar tak ada
angin kesedihan yang mampu melenyapkannya.

Saya yakin, angin kebahagiaan dan keikhalasan, akan mampu menggantikan tulisan
kesedihan kita di atas pasir kesusahan. Sementara, pahatan kebahagiaan kita,
akan selalu terkenang dan membuat kita optimis dalam menjalani panjangnya hidup
ini.
Re: Bls: [Motivasi Islami] Cerita dari seorang sahabat
Jumat, 23 Januari, 2009 02:51
Dari:
"Tommi Lamanepa (Imotman4@gmail.com)" <imotman4@gmail.com>
Kepada:
bmmi@yahoogroups.com
saya mau solat dhuha dulu ah, supaya lancar segala urusan...

2009/1/23 teti kartidjah <
teti_k@yahoo. com>:
> Subhanallah. ... kembali bersemangat untuk melaksanakan Dhuha..... btw boleh
> tau dong sebelah mana jualannya n syapa namanya.....
> hatur nuhun....
>
> --- Pada Kam, 22/1/09, Riza H. Yopie <
yopie@inforsys. co.id> menulis:
>
> Dari: Riza H. Yopie <
yopie@inforsys. co.id>
> Topik: [Motivasi Islami] Cerita dari seorang sahabat
> Kepada:
bmmi@yahoogroups. com
> Tanggal: Kamis, 22 Januari, 2009, 1:49 AM
>
> Selamat membaca, semoga bermanfaat..
>
> Di Bandung tepatnya di daerah Jl. Dalem Kaum, yang satu arah, di
>
>> sebelah gedung Palaguna yang saat ini sudah tidak dipergunakan, ada
>
>> seorang kakek-kakek tua gemuk yang berjualan bubur ayam.
>
>> Kalau kita lihat selintas, beliau berjualan bubur tersebut tidak ada
>
>> sesuatu yang istimewa, seperti bubur yang lainnya.
>
>> Bubur ayam tersebut apabila di hari-hari biasa habis sekitar pukul 8
>
>> pagi untuk hari minggu ? jam 7 sudah ludes!!!!
>
>> Rasanya? sangat nikmat, selama hidup saya di Bandung, baru kali ini
>
>> saya merasakan bubur ayam yang senikmat ini
>
>>
>
>> Saya perhatikan, beliau dalam melayani para pembelinya selalu dengan
>
>> sepenuh hati, beliau memotong-motong ayam dan ati ampela nya se lembut
>
>> mungkin, apabila ada tulang, beliau sisihkan, tidak dihidangkan,
>
>> beliau taburkan ayam dan ati ampela tersebut sebanyak mungkin hingga
>
>> mangkuknya terlihat sangat penuh. sehingga kita pun tidak merasa rugi
>
>> sedikit pun dengan membeli bubur ayam seharga Rp.10.000 / mangkuk.
>
>>
>
>> Di dahi nya terlihat menghitam, tanda seringnya beliau bersujud kepada
>
>> ALLAH, mukanya bercahaya tanda sering terbasuh oleh air wudhu...
>
>> mukanya terlihat damai... jauh dari pikiran buruk kepada orang lain.
>
>>
>
>> Apabila ada gelandangan yang lewat dan meminta sedikit makanan, beliau
>
>> langsung menyajikan dan memberikan satu buah mangkuk penuh berisi
>
>> bubur ayam tanpa meminta bayaran :
>
>>
>
>> beliau hanya berkata " keun weh karunya, bapa mah mening ngaladangan
>
>> nu nyuhunkeun kitu tibatan ngaladangan preman² nu emam bubur tapi
>
>> kalalabur teu malayar"
>
>> (ga apa-apa, bapak sih mendingan melayani orang yang meminta secara
>
>> sopan kepada saya daripada melayani preman-preman yang berlagak sok
>
>> mau membeli tapi akhirnya tidak membayar )
>
>>
>
>> Lalu saya memberanikan diri untuk membuka pembicaraan dengan beliau...
>
>>
>
>> Saya : " Assalamu'alaikum Pak Haji, kumana damang Pajeng pa haji ?
>
>> (Assalamu'alakum Pak Haji, Gimana kabarnya? laku ya pak dagangannya? )
>
>> Penjual Bubur : " Alhamdulillah Den, cekap kangge tuang mah...
>
>> (Alhamdulillah nak, cukup untuk makan sehari-hari) Saya : " Parantos
>
>> sabaraha lami icalan didieu pa haji teh ?
>
>> (Sudah berapa lama bapak berjualan di sini pak?) Penjual Bubur : " Ti
>
>> Taun 78 Den, Alhamdulillah mayeng..
Alhamdulillah tos tiasa angkat ka
>
>> haji 2 x, putra tos jararanten sadayana...
>
>> Alhamdulillah
>
>> Den...
>
>> (Dari tahun 1978 nak, Alhamdulillah lancar... Alhamdulillah sudah bisa
>
>> berangkat haji 2 x, anak saya semuanya sudah jadi orang..
>
>> Alhamdulillah
>
>> nak.)
>
>> Saya : " Rahasiana naon eta teh Pa Haji ?"
>
>> (Apa rahasianya pak haji?)
>
>> Penjual Bubur : "ULAH HILAP SHALAT DHUHA UNGGAL ENJING-ENJING INSYA
>
>> ALLAH DIMUDAHKEUN URUSAN KU GUSTI NU MAHA SUCI"
>
>> (Jangan lupa laksanakan Shalat Dhuha setiap pagi, Insya Allah
>
>> dimudahkan segala urusan oleh ALLAH SWT) Di dunia mah hirup mung
>
>> sakedap den, ayeuna mah urang siap-siap weh nyanghareupan sakaratul
>
>> maut, ulah silap ku harta banda, moal dicandak ka liang lahat. kade
>
>> ulah nuang rezeki nu haram. Insya Allah disayang ku gusti.
>
>> (Hidup di dunia hanya sebentar nak, sekarang kita harus bersiap-siap
>
>> menghadapi sakaratul maut, jangan tergiur oleh kemewahan dalam
>
>> mengejar harta benda duniawi, percuma, hal tersebut tidak akan kita
>
>> bawa ke liang lahat. Hindari memakan rezeki yang haram. Insya Allah
>
>> akan disayang oleh Allah SWT.) Saya : Pa haji, upami tabuh 7 tos se'ep
>
>> mah naha teu nyandak langkung bubur teh ? naha mung nyandak 5 kg wae
>
>> (Pa haji, bila setiap hari jam 7 pagi dagangan sudah habis, kenapa ga
>
>> bawa buburnya dilebihin aja dari 5 kg? kenapa hanya di pas ambil
>
>> 5 Kg)
>
>> Penjual Bubur : Mun dilangkungan, sok kacandak deui ka bumi, janten
>
>> mubah.
>
>> Panginten rezekina ti ALLAH mung 5 kg sadinten, eta teh kacandak Rp.
>
>> 1jt sadinten, upami dinten minggon tiasa kacandak Rp. 2 jt sadinten..
>
>> (Bila dilebihin, suka jadi mubazir, akhirnya terbawa kembali ke rumah.
>
>> Mungkin rezekinya dari ALLAH hanya 5 KG sehari, itu juga Bapak bisa
>
>> bawa pulang 1 JT rupiah sehari, apabila hari minggu bisa bawa pulang 2
>
>> Jt..
>
>> Saya jadi teringat kepada salah satu ayat AL Quran..
>
>> "Rezeki diberikan oleh Allah kepada semua orang baik maupun jahat.
>
>> tetapi pemberian yang khusus, rezeki yang sebenarnya, sebagai hasil
>
>> perjuangan rohani ialah untuk kehidupan orang yang benar-benar
>
>> bertaqwa kepada ALLAH SWT" (QS.20:132.Abd Yusuf Ali)
>
>>
>
>> Allah senantiasa memberikan Rahmat-Nya kepada setiap makhluk yang
>
>> dikehendaki- Nya. Bahkan kepada bapak yang sehari-harinya hanya
>
>> menjual bubur ayam...
>
>>
>
>> Apakah kita termasuk umat yang diberi rahmat dan hidayah-Nya ?
>
>> Hanya Kita sendiri yang bisa menjawabnya. ...
HIDUP bukanlah
sebuah VCD PLAYER

Cerita ini adalah "kisah nyata" yang
pernah terjadi di Amerika.

Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya,

kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk

melakukan kegiatan lain.

Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira

melihat ada truk baru,ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut.

Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya tergores.

Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan

memukulnya, memukul tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman.

Setelah sang

ayah tenang kembali,dia segera membawa anaknya ke rumah sakit.

Walaupun

dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak

yang

hancur tersebut,tetapi ia tetap gagal. Akhirnya dokter memutuskan

untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil

tersebut.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi

dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia

berkata,

"Papa, aku minta maaf tentang trukmu." Kemudian, ia bertanya,
"tetapi

kapan jari- jariku akan tumbuh kembali?"

Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Renungkan cerita di atas! Berpikirlah dahulu sebelum

kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai. Truk

dapat diperbaiki.

Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak

dapat diperbaiki.

Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara

orang dan perbuatannya,

kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar

daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang

kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya.

Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan.

Mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan

lainnya.

Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan

ada waktu untuk mencintainya waktu tidak dapat kembali....

hidup bukanlah sebuah VCD PLAYER, yang dapat di backward dan

Forward.....

.....

HIDUP hanya ada tombol PLAY dan STOP saja....

jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat membayangi

kehidupan kita

kelak....... ..

yang menjadi sebuah inti hidup adalah "HATI"

hati yang dihiasi belas kasih dan cinta kasih.....

CINTA KASIH merupakan nafas kehidupan kita yang sesungguhnya. ........

Tersentuhkah hati anda?

klo YA, artinya anda masih mempunyai HATI

Pengalaman orang lain dapat menjadi hikmah bagi kita.... dan jangan

sampai

kesalahan orang lain

kita ulangi juga........ ..
Jendela Rumah Sakit

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar
rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya
duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan
dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela
satu-satunya yang ada di kamar itu.

Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan
istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan
tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di
perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar
jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa
begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan
dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

"Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa
berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan.
Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan
berbagai macam bunga berwarnakan pelangi.
Sebuah pohon tua besar menghiasi taman
itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja
yang indah."

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan
pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan
pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya
di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya
bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang
parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat
mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata
pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati
ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan
tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain
untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada
perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat
itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatu ya.
Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia
ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya,
akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya
tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat
tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK
KOSONG!!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang
sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa
indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi
adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.

"Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup," kata perawat itu.

(Source Unknown)

***

Teman, saya percaya, setiap kata selalu bermakna bagi setiap orang yang
mendengarnya. Setiap kata, adalah layaknya pemicu, yang mampu menelisik sisi
terdalam hati manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu. Kata-kata, akan
selalu memacu dan memicu kita untuk menggerakkan setiap anggota tubuh kita,
dalam berpikir, dan bertindak.

Saya juga percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang sangat kuat. Dan
kita telah sama-sama melihatnya dalam cerita tadi. Kekuatan kata-kata, akan
selalu hadir pada kita yang percaya.

Saya percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan motivasi, bernilai
dukungan, memberikan kontribusi positif dalam setiap langkah manusia.
Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan
sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu
memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Menyampaikan keburukan, sebanding
dengan setengah kemuraman, namun, menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan
kebahagiaan itu sendiri.

Dan akhirnya saya percaya, kita, saya dan juga Anda, mampu untuk melakukan itu
semua. Menyampaikan setiap ujaran dengan santun, dengan sopan, akan selalu lebih
baik daripada menyampaikannya dengan ketus, gerutu, atau dengan kesal.
Sampaikanlah semua itu dengan bijak, dengan santun. Saya percaya kita bisa.
Bershodaqoh Dengan Rambutan

By: agussyafii

Sore itu kami berkumpul. Satu persatu tamu Alloh hadir. Anak-anak yatim itu datang dengan senyuman. Ibunya dinda dengan wajahnya yang cerah menyerahkan rambutan kepada istri saya. Katanya hanya dengan buah rambutan dirinya ingin bersodaqoh.

"Alhamdulillah, terima kasih banyak ibu.."jawab istri saya. Kebahagiaan kami hadir dengan ketulusan hati. Seorang ibu dengan sekantong buah rambutan, Rambutan itu dimakan bersama Icha, indah, mantika dan juga Winda. terlihat istri saya meneteskan air mata bahagia melihat anak-anak ananda yang riang gembira.

--
Rasulullah Saw. bersabda, "Bila engkau ingin dicintai Alloh SWT, takutlah kepada-Nya dan bertakwalah. Bila engkau ingin dicintai para makhluk, berbuat baiklah kepada mereka dan jangan berharap sesuatu dari yang mereka miliki. Bila engkau ingin diperkaya dalam harta, maka zakatilah harta bendamu. Bila engkau ingin disehatkan badanmu, maka per-banyaklah shodaqohmu. Bila engkau ingin diperpanjang umurmu, maka bersilaturrahmilah kepada kaum kerabatmu. Bila engkau ingin dikumpulkan bersamaku di padang mahsyar, maka perpanjanglah sujudmu kepada Alloh Yang Maha Esa dan Maha Perkasa."

Wassalam,
agussyafii
PANTAT LOW BED

"Pa…, seperti orang lagi kelebihan duit aja... Ngapain bagi-bagi duit sampai segitu banyak..?!" tanya Ima kepada Zainal suaminya. "Sudahlah Ma, pokoknya aku mau berbagi rezeki kepada keluarga di kampung kita ini, insya Allah pasti dibalas berlipat-lipat olehNya" jelas Zainal kepada Ima.
***
Tahun itu Zainal sedang pulang mudik Iedul Fitri ke kampungnya di Maninjau, Bukit Tinggi. Sebagaimana urang awak di perantauan, kembali ke kampung setiap kali lebaran Iedul Fitri adalah sebuah tradisi yang jangan sampai terlewatkan. Mereka yang mencoba peruntungan nasib di perantuan dan sudah sukses, akan kembali dengan membawa sedikit rezeki mereka setiap kali lebaran demi berbagi untuk handai taulan di kampung yang kurang bernasib baik.
Itu juga yang dilakukan Zainal setiap tahun. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tahun 2004, Zainal membawa uang untuk disedekahkan dengan nilai hampir Rp 40 juta. Padahal di tahun sebelumnya, kisaran sedekah yang ia berikan antara 5-10 juta saja.
***
Allah Swt tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa untuk membalas kebaikan setiap hamba-Nya.
***
Usai cuti lebaran Zainal kembali masuk kerja. Para karyawan menyambutnya seraya bersalaman mengucap selamat Iedul Fitri. Suasana halal bi halal terasa kental di lingkungan kantor Zainal. Kini ia sudah masuk ke dalam ruangannya. Ia berdiri di antara kursi dan mejanya. Namun sebelum ia duduk, hp yang ia bawa terdengar berbunyi.

"Pak Haji Zainal, selamat Iedul Fitri dan mohon maaf lahir batin! Ini Joko rekanan kerja bapak…" terdengar suara di seberang telpon Zainal. "Oh sama-sama pak Joko… Mohon maaf lahir batin juga ya!" sahut Zainal. "Begini pak haji..., saya ingin minta bantuan yang sedikit mendesak. Saya tahu pak haji Zainal usahanya bukan dibidang beginian. Tapi barangkali pak haji bisa bantuin saya cari barang..." jelas Joko. "Nyari barang apa, pak Joko?!" tanya Zainal. "Bapak tahu pantat low-bed khan?!*) perusahaan saya mencari yang seken/bekas. Kira-kira haji Zainal bisa bantuin nyari gak ya....?"
tanya Joko.
Terus terang Zainal belum pernah punya pengalaman mencari barang seperti ini. Selama ini bisnis Zainal hanya berkutat seputar dunia forwarding (pengiriman barang). Namun anehnya Zainal mengiyakan tawaran itu. "Kalau haji Zainal bisa bantu cariin, saya mohon dalam 3 hari ini ya...!"
Pembicaraan pun terputus setelah tenggat waktu 3 hari yang disepakati mereka berdua. Usai telpon ditutup, maka kini Zainal berpikir keras hendak mencari kemana barang yang dimaksud?
***
Sudah puluhan kenalan ia kontak. Beberapa tempat industri sekeliling Jakarta sudah ia sambangi. Namun semua itu tidak memberikan hasil apa-apa. Padahal tenggat waktu tersisa 1 hari lagi.
"Subhanallah. ..!!!" Zainal terhenyak dari duduknya di atas mobil. Seolah ia baru saja mendapatkan ilham dari Allah atas keberadaan sebuah pantat low-bed yang pernah ia lihat.
"Kita ke Padalarang, pak...!" seru Zainal kepada supirnya.
Hati Zainal cemas penuh harap. Teringat peristiwa hampir 3 tahun sebelumnya bahwa ia pernah melihat sebuah pantat low-bed ditaruh di pinggir jalan Padalarang dengan sebuah papan bertuliskan DIJUAL.
Padahal saat itu kondisi jalan gelap karena malam dan hujan pun mengguyur sepanjang perjalanan. Saat itu Zainal melihat barang itu tanpa sedikit pun perhatian. Namun kini, ia berharap kepada Allah, semoga pantat low-bed itu masih teronggok di sana.
***
Allah mengabulkan doa Zainal. Setibanya di sana, ia dapati pantat low-bed berwarna kuning itu sudah banyak berkarat. Segera saja ia mengontak pemiliknya. Dan rupanya pemiliknya mau menjual murah barang tersebut. Maka disepakatilah antara Zainal dan pemilik low-bed itu nilai Rp. 50 juta.

Malam itu juga Zainal menelpon Joko memberitahukan bahwa ia sudah menemukan barang yang dimaksud. Joko senang mendengar kabar ini, dan ia berjanji esok pagi akan membawa serta bossnya seorang expatriate bernama Phillip. Maka keesokan pagi mereka semua datang ke lokasi pantat low-bed untuk check fisik.
Hati Zainal agak sedikit khawatir sebab biasanya orang asing agak rewel kalau membeli barang. Apalagi pantat low-bed ini sudah berkarat di sana-sini.
Namun jauh di luar dugaan Zainal, rupanya Phillip merasa puas dan ia merekomendasikan agar barang tersebut langsung dibeli.
Maka usai melihat barang tersebut. Masing-masing mereka pulang dengan kendaraannya.
***
Di atas mobil sepulangnya dari Padalarang, Zainal ditelpon Joko. "Pak Haji, Alhamdulillah boss saya sudah setuju dengan barang tersebut. Silakan kirim surat penawaran harganya kepada kami. Di-fax aja biar langsung saya ajukan ke atasan!" jelas Joko melalui handphone. Zainal pun mengiyakan.

Keesokan paginya, Zainal membuat surat penawaran yang diminta. Dalam surat tersebut ia tulis semua spesifikasi pantat low bed yang dimaksud. Maka saat hendak menulis harga ia berhenti sejenak… Zainal agak bingung mencantumkan berapa harga yang mau ditawarkan. Dalam hal ini ia belum punya pengalaman. Namun bismilllah, dengan nama Allah ia beranikan diri mencantumkan harga Rp 175 juta.
Usai dibuat, surat penawaran itu pun difax langsung ke nomer kantor Joko.

Belum lama berselang, hape Zainal berdering dan ternyata dari Joko. "Saya sudah terima surat penawaran dari pak haji. Tapi kayaknya harganya terlalu mahal tuh!" Joko membuka pembicaraan. "Silakan saja pak Joko kalau mau tawar..!" sambut Zainal.
"Kalau boleh nawar bisa gak Rp10 juta…?!" tanya Joko.
Mendengarnya Zainal kaget dan langsung membalas, "Yang benar saja, pak Joko. Masa harga Rp 175 juta ditawar cuma 10 juta?!"
"Eh... maksud saya bukan nawar barang itu menjadi 10 juta, tapi saya bermaksud bisa gak barang tersebut saya tawar harganya menjadi berkurang 10 juta dari angka yang ditawarkan. Jadi harganya 165 juta, bisa gak pak haji?!"
Subhanallah. ..., Zainal seolah tidak percaya dengan tanggapan dan penjelasan Joko. Ia pun langsung bersemangat dan mengatakan, "Gak ada masalah, silakan saja ambil barang itu dengan harga yang pak Joko bilang!"

Pembicaraan pun disudahi dan setelah mendapatkan surat pembelian barang dari perusahaan Joko, maka Zainal pun mengirimkan pantat low-bed itu ke gudang perusahaan Joko. Dalam beberapa hari dana Rp 165 juta sudah terkirim ke rekening Zainal.
***
Sore itu Zainal pulang ke rumah dengan hati berbunga-bunga. Ia bernyanyi dan bersiul mengekspresikan hatinya yang riang. Masuk rumah ia tidak langsung ke kamar dan berganti pakaian. Ia duduk di ruang tamu sambil terus bernyanyi dan bersiul. Istrinya memperhatikan gelagat aneh ini. Kemudian Ima sang istri bertanya kepada Zainal apa yang terjadi. Zainal menukas, "Nih lihat dalam buku tabungan ada uang masuk gak...?" Begitu melihatnya, Ima langsung berujar, "Alhamdulillah. ..., rezeki dari mana nih Pa?" Zainal langsung berkomentar, "Ini adalah balasan dari Allah saat kita berbagi rezeki kepada kerabat di kampung kemarin. Kamu lihat sendiri khan berapa besar Allah langsung membayarnya? !"

Ima pun mengangguk mengiyakan penjelasan suaminya. Keduanya kini sadar bahwa berbagi di jalan Allah akan mendatangkan balasan berlipat ganda. 40 juta rupiah yang mereka bagikan, hanya dalam hitungan hari dibalas menjadi Rp 165 juta.
Inilah perniagaan yang tiada pernah merugi. Apakah ada tawaran bisnis yang lebih baik dari ini? Hendak kemana kalian berpaling?!
Semut Di Kopyah






By: agussyafii




Beliau yang saya kenal dengan sebutan “abah” sangat
sederhana. Bahkan orang-orang sering banyak belajar darinya. Kehidupan dunia
politik tidak membuatnya menjadi silau pada dunia. Cenderung aneh, terkadang
ada orang yang menyebutkan “naif” sebab ditengah kehidupan modernitas yang
bergelimang materi beliau malah meninggalkan semuanya.
Seringkali terucapkan
kata-kata, “kita hanya perlu yang kita butuhkan.”



Malam itu saya menemani beliau ceramah Muharam disalah satu
Masjid di ibukota. Selesai ceramah kami langsung pulang. Belum sampai turun
menginjakkan tanah, Abah mengatakan, “gus, kita kembali ke masjid tempat
ceramah tadinya..” Melihat apa yang dikatakan saya sempat terheran.



“ada sesuatu yang ketinggalan Pak?’ tanya saya.



“Kalau barang ketinggalan tidak masalah, tetapi seekor semut
dilantai masjid tadi terbawa dikopyah saya. Kalau tidak kembalikan ke masjid,
anak biniya pasti mencarinya..” Jawab abah.
Elang

Suatu ketika, di sebuah lereng, tersebutlah seonggok
sarang Elang. Di dalamnya terdapat 6 butir telur yang sedang dierami
induknya. Suatu hari, terjadi sebuah gempa kecil dan mengakibatkan
sebutir telur mengelinding ke bawah. Namun, induk Elang tak mengetahui
hal itu. Untunglah, telur itu kuat, sehingga kemudian benda itu malah
masuk ke dalam sebuah sangkar ayam. Seekor induk ayam yang sedang
mengeram, lalu malah memasukkan telur itu ke dalam buaian bersama
telur-telur ayam lainnya.

Beberapa saat kemudian, menetaslah
telur itu, dan keluarlah seekor anak Elang yang gagah. Namun,
sayangnya, ia dilahirkan di tengah keluarga ayam. Lama kemudian Elang
kecil itu, tumbuh bersama anak-anak ayam lainnya.
Dan si Elang kecil
itupun percaya bahwa ia adalah seekor anak ayam. Ia juga mencintai
sangkar dan induk ayam, namun, ada keinginan lain di hati kecilnya.

Elang
kecil itu, suatu ketika, melihat elang-elang besar yang sedang
mengepakkan sayapnya yang indah di angkasa. Ia kagum sekali dengan
kegagahan mereka. "Oh,"...Elang kecil itu memekik, "Andai saja, aku
bisa terbang seperti burung-burung gagah itu." katanya sambil menatap
langit. Anak-anak ayam lain tertawa mencericit. "Ha ha ha...kamu tak
akan bisa terbang bersama mereka, " ujar seekor anak ayam, "Kamu adalah
ayam, dan ayam tak bisa terbang!" Hahahaha.... . Tawa anak-anak ayam itu
kembali memenuhi telinga si Elang kecil.
"Oh, andai saja..." ujarnya
pelan. Elang kecil itu kembali menatap langit. Menatap keluarga yang
sebenarnya di atas sana.

Setiap waktu, saat Elang itu
mengungkapkan impiannya, ia selalu diberi nasehat, bahwa itu adalah hal
yang mustahil yang bisa dilakukannya. Dan hal itulah yang terus
dipelajari oleh si Elang, bahwa, ia tak mungkin bisa terbang, dan
mengepakkan sayapnya di angkasa. Lama kemudian, si Elang berhenti
bermimpi, dan melanjutkan hidupnya sebagai ayam biasa. Akhirnya,
setelah sekian lama hidup menderita, dikekang dengan semua impiannya,
si Elang pun mati.

--Author Unknown

***

Teman, ini
adalah sebuah amsal yang baik tentang kehidupan. Ini, adalah sebuah
permisalan yang indah tentang makna harapan dan impian-impian. Ada
banyak sekali asa dan hasrat, yang akhirnya pupus, karena, hilangnya
rasa percaya dalam kalbu. Ada banyak sekali harapan-harapan, yang
hilang, hanya karena kita tak percaya dengan semua kemampuan yang kita
miliki.

Teman, kita semua adalah Elang-Elang kecil, yang --bisa
jadi-- lahir dalam buaian ayam. Kita semua adalah manusia-manusia
hebat, yang punya banyak potensi. Allah berikan banyak anugrah buat
kita, namun, seringkali, rasa percaya diri itu begitu kecil, tak mampu
membuat kita yakin, bahwa kita mampu, bahwa kita bisa. Allah berikan
banyak sekali rahmat, namun seringkali itu semua itu tak membuat kita
makin bersyukur, dan mau menjadikannya sebagai pendorong dalam hati.

Teman,
kita akan menjadi apa yang kita percayai. Jadi, saat kita bermimpi
untuk menjadi "elang", teruskan impian tadi, dan coba, abaikan dulu
nasehat "ayam-ayam" itu. Karena siapa tahu, kita adalah calon
"elang-elang" yang akan lahir dan mengepakkan sayap dengan indah di
angkasa.

0 komentar:

Desain by : Kang Pendi | Template by : x-template.blogspot.com