Ingat
pertama berjumpa dengan sahabat, 17 Agustus 2003 selesai upacara dia menghampiri dan berbagi
roti padahal kami tidak saling kenal, sejak saat itu kami berkenalan dan tau
satu sama lain. Kelas 1 SMP kami berdua memiliki teman dekat yang sama, namanya
teh Imas masitoh. Sekarang teh Imas sudah dikaruniai 2 orang putri dan
berdomosili di Banten.
Nama
sahabat saya adalah Yuli Yulianti, jika dari sekian banyak teman telah
sewajarnya jika saya temukan kekecewaan maka kewajaran tersebut tidak saya
temukan padanya. Dia mudah bergaul dengan siapa saja dan cukup pintar, kami ada
di kelas yang sama sejak 3 SMP sampai 3 SMA.
Saya
memiliki cukup banyak teman dan sering bersama-sama dengan teman yang
berbeda-beda namun secara tidak sengaja saya memperlakukan sahabat saya yang
satu itu dengan berbeda, dengan siapapun saya bergaul dia tidak pernah cemburu
dan yang jadi tempat pelabuhan saya jika bermasalah dengan yang lain adalah
dia,, andai seharian saya berjalan-jalan dan berkumpul dengan teman akrab saya di
SMA D’Farins (Dian, Fitriani, arin, rika, imas, nisa) maka saya senantiasa
mampir di bangkunya untuk bercakap-cakap di sela-sela waktu sekolah. Dalam dunia
kami, kami adalah berdua, tidak ada yang lain.
Bangku
SMP menjadi salah satu bukti persahabatan kami. Kelas satu kami memilih ekskul
yang sama, yaitu menjahit, bahasa inggris dan pramuka, oh ya kami juga aktif di
Marchine Band dan OSIS. Kami senantiasa dipertemukan dalam banyak kesempatan.
Jika
mengenang raut wajahnya, saya senantiasa tersenyum dan merindukannya, dia
selalu menerima dan tidak pernah marah. Dia mengesankan, menempuh berkilo2
meter jalan kaki u sekolah, dia khas dan kadang diejek "tukang kredit"
coz tasnya diselendang kecil dan jalan dengan cara yang kaku membuat sebutan “Yuli
leuleus” ada di muka bumi ini.
Dia adalah
sahabat yang baik dan sederhana. Yang saya tahu, cita-citanya adalah menjadi
dokter tapi tidak bisa memastikan apakah bisa kuliah atau tidak, J . dia tidak pernah neko-neko dalam dandan. Bajunyapun tidak modis,
model tas yang suka dia pake pun yang seperti itu2 saja (seperti tkng kredit), jika
ada yang tanya “yuli mana?” jawaban orang adalah “Yuli Leuleus” dan orang sudah
mafhum jika yang dimaksud adalah ya sahabat saya itu. Meski banyak yang berkata
seperti itu dan sampai pada telinganya, dia hanya bersikap cuek dan berkata “Ah
bae we kumaha abi”. :D . sungguh dia sangat mengesankan.
Dia cantik,
dia populer di kalangan kakak kelas. Hmmm waktu PASKIBRA dia juga berani nolak
senior yang lumayan OKE. Sebenarnya kesan menarik yang ada padanya adalah
kesederhanaannya dan apa adanya, tidak dibuat-buat dan tidak pilih2 teman. Luar
biasa.
Kami
pernah mengikat janji bahwa jika diantara kami menikah, maka H-1 kami saling
berkunjung dan menginap. Dia menikah 3 tahun lalu saat saya tingkat satu. Ya saya
tidak bisa menepati janji saat itu. Sedih sekali datang di hari-H pernikahannya
dengan mengucap maaf karenanya. Maaf sahabatku.
Dan kedatangan
saya kerumahnya saat itu pertama kali saya membuktikan betapa jauhnya tempat
kediamannya. Di kampung itu benar-benar hanya ada 3 rumah, uhh jalannya sangat
tidak bagus dan menanjak, daerah gunung dan dekat ke pohon pinus >>berarti
dataran tinggi. Saya jadi bertafakkur betapa dia sangat berjuang ketika SMP
setiap hari bolak-balik menempuh berkilo2 meter. Kampung Cileutik namanya.
Ironis,
katanya sahabat, tapi hari pernikahannya adalah kali pertama saya berkunjung ke
rumahnya, padahal rumah saya di Caringin telah menjadi “panggaleyyan” dia
ketika SMP. Namun sayang sekali, sejak dia menikah, kami lost contact, mungkin
dia ganti nomor dan saya baru sadar kami lost contact ketika benar-benar
merindukannya dan ingin menghubunginya. Apakah dia sudah punya anak atau belum
saya tidak tahu, apakah dia masih langsing
dan putih Saya juga tidak tahu, apakah dia bahagia pun saya tak tahu. Keterlaluan
L. Tapi
baru saja saya mendapat jejak. Saya tahu sekkarang dimana bisa menemukannya. Ketika
saya pulang, insyaallah akan segera saya temui. Alhamdulillah.
0 komentar:
Posting Komentar